Sabtu, 29 November 2008

Ayah dan Anak

Seorang anak bisa menjadi pelepas lelah , kadang masalah di tempat kerja sejenak hilang ketika bersama keluarga di rumah.

papa dan Indie 


 
papa dan gerald

Senin, 24 November 2008

Telur Imitasi , Boleh Percaya Boleh Tidak

Harga grosir telu imitasi ini 0,15 yuan (S $ 0,03) separuh dari harga telur asli.

Ini adalah berita baik untuk pengusaha jahat, yang melakukan pemalsuan telur ini , karena ada kursus tiga hari untuk bisa memproduksi telur buatan ini dengan biaya hanya kurang dari S $ 150. Seorang wartawan dari Hong Kong-majalah berbasis Cina Timur Minggu sempat terdaftar dalam satu kursus tersebut.

Untuk membuat telur putih, instruktur - seorang wanita di 20-an - menggunakan bermacam-macam bahan seperti agar-agar jeli , benzoic asam, dan bahkan coagulating bahan alum, yang biasanya digunakan untuk proses industri.

Untuk telur kuning telur, jeruk nipis-warna kuning bubuk dicampur ke cairan dan ramuan diaduk. Cairan yang kemudian dituangkan ke dalam plastik berbentuk bulat dan dicampur dengan air yang mengandung kalsium khlorida.

Ini untuk memberikan wujud yang luar selaput tipis. Telur kemudian berbentuk dengan cetakan. Cangkang tidak lupa dibuat. Parafin putih dan benda cair yang dituangkan ke telur palsu, yang kemudian dibiarkan sampai kering.

Para ahli memperingatkan tentang bahaya dari makan telur palsu ini karena tidak hanya tidak mengandung gizi apapun namun konsumsi jangka panjang konsumsi alum dapat menyebabkan gangguan otak.

http://www.hoax-slayer.com/images/fake-eggs-China-2.jpg

http://www.hoax-slayer.com/images/fake-eggs-China-3.jpg

Jumat, 14 November 2008

Soekarwo Menang Tipis , Khofifah Kalah Tebal

Judul tulisan ini sebenarnya plesetan dari headline sebuah surat kabar terbitan Surabaya saat rekapitulasi penghitungan suara Pemilihan Gubernur Jawa Timur . Judulnya memang sangat eye catching bagi warga Jawa Timur yang lagi demam pemilihan gubernur. Dimana-mana , mulai dari kantoran sampai di pasar , mulai dari pejabat muspida sampai ibu rumah tanga yang dibicarakan siapa gubernur terpilih.
Maka waktu seorang rekan wartawan bertanya saat perhitungan suara di Mercure kira – kira siapa yang menang , langsung saja aku menjawab, “ Soekarwo Menang Tipis , Khofifah Kalah Tebal”. Kontan saja temanku langsung melanjutkan bertanya , “emangnya Khofifah kalah tebal amplopnya ( duitnya) sehingga kalah ?”
Ha ha ha , memangnya siapa yang ngomongin tebal tipisnya amplop?”
Memang selama pemilihan gubernur ini soal suara dan amplop sangat sensitif ya ? dan tidak mengherankan selama pemilihan gubernur ini suara dan amplop seolah bersahabat sangat erat. Besar kecilnya dukungan suara , dikaitkan dengan tebal tipisnya amplop, lantang tidaknya suara pasti tergantung pada amplop , bukan pada uang receh.

Tentang judul itu sebenarnya aku hanya membuat lawan kata dari setiap judul yang menjadi headline surat kabar itu, karena memang judul itu akhirnya menjadi kenyataan saat rapat pleno terbuka KPU Jatim.
Selama pilgub “lawan” dari Soekarwo pasti Khofifah, lawan kata dari “menang” pasti “kalah” , dan lawan kata dari “tipis” sudah pasti “tebal”. Gak ada maksud apa – apa koq.
Khofifah memang kalah tebal , tapi bukan yang menyangkut amplop lho , Khofifah kalah tebal kumisnya atau brengose yang menjadi jargon kampanye Pakdhe Karwo dan Gus Ipul.

Iya , entah kebetulan dua kandidat ini seolah bertengangan satu sama lain , yang satu pria , satunya lagi wanita. Yang satu berkumis , yang satu lagi sangat mulus tak berkumis, dan yang jelas ada satu lagi pertentangnya , yang satu didukung oleh SBY dan yang satu lagi didukung oleh Mega , sang pemimpin oposisi.

Pemilihan Gubernur Jawa Timur ini sangat menarik untuk dicermati lebih jauh, bukan saja pasca pencoblosan sampai prosesnya sekarang ini yang masuk ranah sengketa pilkada , tapi para kandidatnya sebenarnya punya beberapa kesamaan.
Satu kandidat mantan sekretaris daerah , kandidat lainya mantan kepala staf kodam , sebuah jabatan yang sebenarnya sama-sama pucuk karir eksekutif atau staff di sebuah wilayah.
Satu kandidat ketua PP Muslimat, kandidat yang lain ketua GP Ansor yang sama – sama pemimpin badan otonom Nahdlatul Ulama.
Salah satu dari para kandidat ini mempunyai background mantan menteri kabinet.
Kedua kandidat ini sama-sama mempunyai lebih dari 7 juta pemilih .
Dan yang lebih menarik adalah semuanya berhubungan dengan PPP , yang satu menjabat wakil ketua MPP Partai Persatuan Pembangunan dan kandidat yang lain dicalonkan oleh Partai Persatuan Pembangunan.

Seringkali persaingan membuat keakraban yang sempat terjalin lama menjadi memudar. Entah kini Khofifah dan Gus Ipul masih bisa bergandengan tangan lagi atau tidak . Dulu Khofifah dan Saifullah Yusuf sangat akrab. Seperti peristiwa di Jakarta tahun lalu. Gus Ipul sebagai ketua umum PP GP Ansor menggandeng Khofifah ke Kantor Ansor di Jakarta, dalam peresmian pembentukan Divisi Search and Rescue (SAR) Ansor( Surya . Selasa (13/3/07).

Tapi yang jelas , kini meski pemilihan gubernur ini memasuki ranah sengketa pilkada , bukan berarti para tokoh yang terlibat ini boleh ikut bersengketa. Pakdhe Karwo yangdituakan karena “kepakdheannya”, pasti tidak suka kalau kemenangannya dianggap curang. Demikian juga Khofifah , sebagai seorang pemimpin kaum wanita nahdliyin pasti selalu diliputi dengan kesabaran , kekalahan pasti bukan satu hal yang bisa membuat “singa podium” era 1990-an ini mengamuk.

Sungguh beruntung Jawa Timur , dalam pemilihan pemimpinnya kali ini memberikan kesempatan bagi warganya untuk tidak salah pilih. Karena meskipun salah , tetap saja mereka yang terbaik akan memimpin Jawa Timur ini. Dua orang tokoh ini pasti mempunyai kompetensi yang sama dan bisa diandalkan untuk memimpin pembangunan di Jawa Timur. Kita serahkan pada mereka , karena tugas kita sebagai rakyat sudah tuntas untuk memilih satu diantara mereka.
Untuk soal jabatan , kita serahkan saja pada Mahkamah Konstitusi yang keputusannya final dan mengikat.

Surabaya , 14 November 2008

Selasa, 14 Oktober 2008

Cari muka




Dasar Cari muka... Umpatan seorang rekan sambil bersungut-sungut menceritakan kelakuan rekannya yang hanya menyampaikan laporan ABS (asal bapak senang) tanpa memberikan saran / masukan. Kenapa pimpinan dilambungkan dengan laporan yang hanya terlihat bagus tapi ada kekurangannya?

Di tengah kompetisi yang semakin kuat ini , tidak jarang persaingan juga terjadi dalam satu perusahaan . Antar rekan kerja pun tak jarang saling berkompetisi untuk mencari jabatan tertentu.
Satu hal yang aku paling tidak suka melakukannya adalah menjilat atau cari muka. Cari muka atau menjilat hanya akan menjerumuskan perusahaan pada kehancuran.

Seorang penjilat akan memberikan informasi yang baik-baik saja pada atasan , padahal kondisi yang sebenarnya tidak demikian. Sang penjilat akan membuat atasan terlena , tidak tahu kondisi yang sebenarnya.
Penjilat adalah pengkhianat, ia akan mencari cara agar semua keberhasilan dianggap buah karyanya , meski dengan cara menginjak yang lain.
Apa yang terjadi biarkan saja , sampaikan saja pada atasan tentang hal buruk perusahaan ini , sehingga bisa dicarikan solusinya, bukan menyembunyikannya sehingga menjadi bom waktu kehancuran. 

Sabtu, 20 September 2008

Mencari Pemimpin


Bersama  Khofifah Indar Parawansa


 
Bersama Soekarwo, Yohan- Kompas dan Mas Nanus

Seringkali cukup sulit untuk mencari pemimpin, ya ... jangan kan yang mencari, yang menjadi pemimpinpun sangat sulit. Menjadi pemimpin bukanlah menjadi penguasa. Pemimpin menjadi teladan , sedangkan penguasa cenderung menguasai. Semoga Pemimpin Jawa Timur bisa memegang amanah dari para pemilihnya.


Andi F Noya dan Kick Andi


Ketika di jadwal tercantum namaku untuk  talkshow dengan Andi F Noya - presenter Kick Andi - awalnya agak grogi juga , meski sebenarnya talkshow adalah pekerjaan yang rutin aku jalani. Tapi masalahnya aku harus menginterview seorang interviewer yang sangat handal dengan pertanyaan yang seringkali nyelekit.

Tapi ternyata Minggu pagi yang cerah itu Andi Noya yang aku kenal lewat rekan jurnalis di Metro TV , sebagai seorang yang kaku , ternyata sangat mudah akrab. Andi membuatku enjoy dengan panggilan langsung tanpa basa basi.
Bagiku Andi sangat menghormati orang lain , sebagai sosok yang kurang senang dengan pujian , barangkali menjadi sesuatu yang sulit bagi Andi untuk menghindari pujian. Langkahnya selama ini memberikan inspirasi bagi orang lain , membuka hati dan pikiran orang untuk merasakan senangnya bisa berbagi.
Dengan Kick Andi Foundation , Andi Noya  memberikan semangat bagi orang lain untuk berbagi. Ya , memberikan inspirasi untuk berbagi.
Mengajak untuk bersyukur dengan apa yang sudah aku peroleh , dan melihat masih banyak orang lain yang belum seberuntung aku. Terima kasih Tuhan.

Sabtu, 23 Agustus 2008

Diogenes




D I O G E N E S


Diogenes seorang filsuf , makan ubi sebagai santap malamnya.
Hal itu dilihat oleh Aristippos, rekannya , seorang filsuf yang hidup enak dan mewah sebagai pejabat kerajaan.

Maka berkatalah Aristippos pada Diogenes, “ seandainya engkau mau belajar menghamba kepada raja , engkau tidak perlu lagi makan sampah seperti ubi itu “.

Mendengar hal itu , Diogenes berkata , “ jika engkau sudah belajar hidup dengan makan ubi , engkau tidak perlu menjilat raja “.
( Anthony de Mello SJ, Burung Berkicau, Cipta Loka Caraka , 1984 )