Jumat, 14 November 2008

Soekarwo Menang Tipis , Khofifah Kalah Tebal

Judul tulisan ini sebenarnya plesetan dari headline sebuah surat kabar terbitan Surabaya saat rekapitulasi penghitungan suara Pemilihan Gubernur Jawa Timur . Judulnya memang sangat eye catching bagi warga Jawa Timur yang lagi demam pemilihan gubernur. Dimana-mana , mulai dari kantoran sampai di pasar , mulai dari pejabat muspida sampai ibu rumah tanga yang dibicarakan siapa gubernur terpilih.
Maka waktu seorang rekan wartawan bertanya saat perhitungan suara di Mercure kira – kira siapa yang menang , langsung saja aku menjawab, “ Soekarwo Menang Tipis , Khofifah Kalah Tebal”. Kontan saja temanku langsung melanjutkan bertanya , “emangnya Khofifah kalah tebal amplopnya ( duitnya) sehingga kalah ?”
Ha ha ha , memangnya siapa yang ngomongin tebal tipisnya amplop?”
Memang selama pemilihan gubernur ini soal suara dan amplop sangat sensitif ya ? dan tidak mengherankan selama pemilihan gubernur ini suara dan amplop seolah bersahabat sangat erat. Besar kecilnya dukungan suara , dikaitkan dengan tebal tipisnya amplop, lantang tidaknya suara pasti tergantung pada amplop , bukan pada uang receh.

Tentang judul itu sebenarnya aku hanya membuat lawan kata dari setiap judul yang menjadi headline surat kabar itu, karena memang judul itu akhirnya menjadi kenyataan saat rapat pleno terbuka KPU Jatim.
Selama pilgub “lawan” dari Soekarwo pasti Khofifah, lawan kata dari “menang” pasti “kalah” , dan lawan kata dari “tipis” sudah pasti “tebal”. Gak ada maksud apa – apa koq.
Khofifah memang kalah tebal , tapi bukan yang menyangkut amplop lho , Khofifah kalah tebal kumisnya atau brengose yang menjadi jargon kampanye Pakdhe Karwo dan Gus Ipul.

Iya , entah kebetulan dua kandidat ini seolah bertengangan satu sama lain , yang satu pria , satunya lagi wanita. Yang satu berkumis , yang satu lagi sangat mulus tak berkumis, dan yang jelas ada satu lagi pertentangnya , yang satu didukung oleh SBY dan yang satu lagi didukung oleh Mega , sang pemimpin oposisi.

Pemilihan Gubernur Jawa Timur ini sangat menarik untuk dicermati lebih jauh, bukan saja pasca pencoblosan sampai prosesnya sekarang ini yang masuk ranah sengketa pilkada , tapi para kandidatnya sebenarnya punya beberapa kesamaan.
Satu kandidat mantan sekretaris daerah , kandidat lainya mantan kepala staf kodam , sebuah jabatan yang sebenarnya sama-sama pucuk karir eksekutif atau staff di sebuah wilayah.
Satu kandidat ketua PP Muslimat, kandidat yang lain ketua GP Ansor yang sama – sama pemimpin badan otonom Nahdlatul Ulama.
Salah satu dari para kandidat ini mempunyai background mantan menteri kabinet.
Kedua kandidat ini sama-sama mempunyai lebih dari 7 juta pemilih .
Dan yang lebih menarik adalah semuanya berhubungan dengan PPP , yang satu menjabat wakil ketua MPP Partai Persatuan Pembangunan dan kandidat yang lain dicalonkan oleh Partai Persatuan Pembangunan.

Seringkali persaingan membuat keakraban yang sempat terjalin lama menjadi memudar. Entah kini Khofifah dan Gus Ipul masih bisa bergandengan tangan lagi atau tidak . Dulu Khofifah dan Saifullah Yusuf sangat akrab. Seperti peristiwa di Jakarta tahun lalu. Gus Ipul sebagai ketua umum PP GP Ansor menggandeng Khofifah ke Kantor Ansor di Jakarta, dalam peresmian pembentukan Divisi Search and Rescue (SAR) Ansor( Surya . Selasa (13/3/07).

Tapi yang jelas , kini meski pemilihan gubernur ini memasuki ranah sengketa pilkada , bukan berarti para tokoh yang terlibat ini boleh ikut bersengketa. Pakdhe Karwo yangdituakan karena “kepakdheannya”, pasti tidak suka kalau kemenangannya dianggap curang. Demikian juga Khofifah , sebagai seorang pemimpin kaum wanita nahdliyin pasti selalu diliputi dengan kesabaran , kekalahan pasti bukan satu hal yang bisa membuat “singa podium” era 1990-an ini mengamuk.

Sungguh beruntung Jawa Timur , dalam pemilihan pemimpinnya kali ini memberikan kesempatan bagi warganya untuk tidak salah pilih. Karena meskipun salah , tetap saja mereka yang terbaik akan memimpin Jawa Timur ini. Dua orang tokoh ini pasti mempunyai kompetensi yang sama dan bisa diandalkan untuk memimpin pembangunan di Jawa Timur. Kita serahkan pada mereka , karena tugas kita sebagai rakyat sudah tuntas untuk memilih satu diantara mereka.
Untuk soal jabatan , kita serahkan saja pada Mahkamah Konstitusi yang keputusannya final dan mengikat.

Surabaya , 14 November 2008

Tidak ada komentar: